Kamis, 07 Agustus 2008

Data Gempa (BMG)

O T

MAG

DEPTH

LOCATION

REGION

WIB

SR

Km

LATITUDE

LONGITUDE

07082008

10:46:23

5.2

20

8.26 LS

117.61 BT

34 Km Timur

Laut Sumbawa

NTB

07082008

06:07:05

5.1

10

8.08 LS

117.60 BT

50 Km Timur

Laut Sumbawa

NTB

07082008

05:41:01

6.6

10

8.16 LS

117.74 BT

51 Km Tmur

Laut Sumbawa

NTB

05082008

21:04:30

5.6

85

1.45 LU

127.26 BT

73 Km Barat

Laut Ternate

Maluku Utara

05082008

03:43:15

6.9

171

6.00 LS

130.36 BT

243 Km Barat

Laut Saumlaki

Maluku

Rabu, 30 Juli 2008

Magnitude 5.4 - GREATER LOS ANGELES AREA, CALIFORNIA

Earthquake Details

Magnitude5.4
Date-Time
Location33.955°N, 117.765°W
Depth13.6 km (8.5 miles)
RegionGREATER LOS ANGELES AREA, CALIFORNIA
Distances
  • 4 km (3 miles) WSW (240°) from Chino Hills, CA
  • 7 km (4 miles) SE (135°) from Diamond Bar, CA
  • 8 km (5 miles) NNE (16°) from Yorba Linda, CA
  • 12 km (7 miles) S (184°) from Pomona, CA
  • 46 km (28 miles) ESE (104°) from Los Angeles Civic Center, CA
Location Uncertaintyhorizontal +/- 0.3 km (0.2 miles); depth +/- 0.6 km (0.4 miles)
ParametersNph=095, Dmin=9 km, Rmss=0.34 sec, Gp= 25°,
M-type=moment magnitude (Mw), Version=S
Source
Event IDci14383980
  • This event has been reviewed by a seismologist.
Sumber berita dari USGS

Gempa Sumbar, Picu Aktivitas Mikro Gunung Talang Solok

Gempa 5,6 SR kemaren ternyata menimbulkan akibat terhadap gunung Talang. berikut laporang selengkapnya dari ANTARA


Solok (ANTARA News) - Gunung Api Talang di Kabupaten Solok, Provinsi Sumbar, kini menunjukkan aktivitas mikro, dampak dari gempa tektonik berkekuatan 5,6 skala Richter (SR) Senin (28/7) siang, pukul 14.10 WIB berlokasi pada 76 km Barat Daya Pariaman itu.

Pengamat Gunung Api Talang di Pos Pengamatan Limau Purut Batu Bajanjang Bukit Sileh Kecamatan Lembang Jaya, Dalipa Marjusi, di Solok, Selasa, mengatakan, sebelum gempa, aktivitas Gunung Api Talang telah menunjukkan tendensi meningkat.

"Munculnya gempa Senin itu, peningkatan aktivitas mikro gunung makin bertambah. Namun, sejauh ini, secara keseluruhan belum menimbulkan dampak besar," katanya.

Ia menjelaskan, pengaruh gempa jelas ada pada aktivitas Gunung Api Talang itu, tetapi bersifat temporer, fluktuatif dan tidak permanen.

Sepanjang Senin (28/7) itu, katanya lagi, sejak subuh (dinihari) hingga sore sebelum terjadi gempa telah terjadi 4 kali gempa vulkanis.

Tetapi, kekuatan guncangannya masih tergolong lemah. Peningkatan menguat hanya terjadi pada saat terjadi gempa 5,6 SR.

"Atas kondisi tersebut, dia melarang masyarakat berada pada daerah dalam radius 2-3 km dari puncak gunung yang telah direkomendasikan sebelumnya," katanya.

Artinya, katanya lagi, pelarangan itu belum dicabut sejak ditetapkan beberapa waktu ke depan sehingga kita tetap melarang warga berada pada radius 2-3 km dari puncak gunung, terkait status gunung "masih waspada?.

Sementara itu, sebelumnya masyarakat Solok sempat panik ketika terjadi gempa berkekuatan 5,6 SR tersebut itu dan getaran justeru lebih dirasakan kuat di pusat Kabupaten Solok.

Il warga Kayu Aro Nagari Batng Barus Kecamatan Gunung Talang misalnya, mengaku saat itu tengah berada di ruang usaha warung internet (warnet)nya.

Ketika gempa 5,6 SR terjadi, dia bersama pelanggan warnetnya langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri bersama warga lainnya di lingkungan setempat.

Lain lagi pengalaman sejumlah guru SMPN 1 Gunung Talang. Mereka nyaris terjebak di lantai dua saat gempa 5,6 SR terjadi.

Masih untung, fisik bangunan gedung sekolah tetap berdiri kokoh, sehingga para pendidik berhasil menyelamatkan diri berlarian ke lantai bawah, katanya.(*)

Senin, 28 Juli 2008

gempa padang pariaman

Menurut berita yang dikeluarkan oleh BMG, bahwa gempa berada pada 1.11 LS - 99.63 BT atau 76 km BaratDaya Pariaman-Sumbar , 76 km BaratDaya Pariaman-Sumbar , 81 km BaratDaya Padang-Sumbar , 92 km TimurLaut SiberutMentawai-Sumbar , 107 km BaratLaut Painan-Sumbar.

Gempa yang terjadi pada hari ini, senin 28 Juli 2008 pukul 14:10:02 tersebut berkekuatan 5.6 SR pada kedalaman 23 Km.

Gempa tersebut juga dirasakan di Pariaman III-IV MMI, Padang III-IV MMI, Padang Panjang II-III MMI, dan Bukittinggi I-II MMI.
Tapi sampai dengan tulisan ini dibuat tidak terjadi gempa susulan.

Minggu, 27 Juli 2008

apa aja parameter sebuah gempa bumi...?

Setiap kejadian gempabumi akan menghasilkan informasi seismik berupa rekaman sinyal berbentuk gelombang yang setelah melalui proses manual atau non manual akan menjadi data bacaan fase (phase reading data).

Informasi seismik selanjutnya mengalami proses pengumpulan, pengolahan dan analisis sehingga menjadi parameter gempabumi. Parameter gempabumi tersebut meliputi : Waktu kejadian gempabumi, Lokasi episenter, Kedalaman sumber gempabumi, Kekuatan gempabumi, dan Intensitas gempabumi.

Waktu kejadian gempabumi (Origin Time) adalah waktu terlepasnya akumulasi tegangan (stress) yang berbentuk penjalaran gelombang gempabumi dan dinyatakan dalam hari, tanggal, bulan, tahun, jam, menit, detik dalam satuan UTC (Universal Time Coordinated).

Episenter adalah titik di permukaan bumi yang merupakan refleksi tegak lurus dari Hiposenter atau Fokus gempabumi. Lokasi Episenter dibuat dalam sistem koordinat kartesian bola bumi atau sistem koordinat geografis dan dinyatakan dalam derajat lintang dan bujur.

Kedalaman sumber gempabumi adalah jarak hiposenter dihitung tegak lurus dari permukaan bumi. Kedalaman dinyatakan oleh besaran jarak dalam satuan km.

Kekuatan gempabumi atau Magnitude adalah ukuran kekuatan gempabumi, menggambarkan besarnya energi yang terlepas pada saat gempabumi terjadi dan merupakan hasil pengamatan Seismograf. Magnitude menggunakan skala Richter (SR).

Intensitas gempabumi adalah ukuran kerusakan akibat gempabumi berdasarkan hasil pengamatan efek gempabumi terhadap manusia, struktur bangunan dan lingkungan pada tempat tertentu, dinyatakan dalam skala MMI (Modified Mercalli Intensity).

Berdasarkan kekuatannya atau magnitude (M), gempabumi dapat dibedakan atas :
a. Gempabumi sangat besar dengan magnitude lebih besar dari 8 SR.
b. Gempabumi besar magnitude antara 7 hingga 8 SR.
c. Gempabumi merusak magnitude antara 5 hingga 6 SR.
d. Gempabumi sedang magnitude antara 4 hingga 5 SR.
e. Gempabumi kecil dengan magnitude antara 3 hingga 4 SR .
f. Gempabumi mikro magnitude antara 1 hingga 3 SR .
g. Gempabumi ultra mikro dengan magnitude lebih kecil dari 1 SR .

Berdasarkan kedalaman sumber (h), gempabumi digolongkan atas :
a. Gempabumi dalam h > 300 Km .
b. Gempabumi menengah 80 < h < 300 Km .
c. Gempabumi dangkal h < 80 Km .

Berdasarkan tipenya gempabumi dapat dibedakan atas:
TypeI :Pada tipe ini gempa bumi utama diikuti gempa susulan tanpa
didahului oleh gempa pendahuluan (fore shock).
Type II :Sebelum terjadi gempa bumi utama, diawali dengan adanya gempa
pendahuluan dan selanjutnya diikuti oleh gempa susulan yang cukup
banyak.
Type III:Tidak terdapat gempa bumi utama. Magnitude dan jumlah gempabumi yang
terjadi besar pada periode awal dan berkurang pada periode akhir dan
biasanya dapat berlangsung cukup lama dan bisa mencapai 3 bulan. Tipe gempa
ini disebut tipe swarm dan biasanya terjadi pada daerah vulkanik.

apa itu magnitude...?

Seperti telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, bahwa magnitude adalah ukuran kekuatan gempabumi, menggambarkan besarnya energi yang terlepas pada saat gempabumi terjadi dan merupakan hasil pengamatan Seismograf. Magnitude menggunakan skala Richter (SR).

Konsep “Magnitude Gempabumi” sebagai skala kekuatan relatif hasil dari pengukuran fase amplitude dikemukakan pertama kali oleh K. Wadati dan C. Richter sekitar tahun 1930 (Lay. T and Wallace. T.C,1995).
Kekuatan gempabumi dinyatakan dengan besaran Magnitude dalam skala logaritma basis 10. Suatu harga Magnitude diperoleh sebagai hasil analisis tipe gelombang seismik tertentu (berupa rekaman getaran tanah yang tercatat paling besar) dengan memperhitungkan koreksi jarak stasiun pencatat ke episenter.
Dewasa ini terdapat empat jenis Magnitude yang umum digunakan (Lay. T and Wallace. T.C, 1995) yaitu : Magnitude lokal, Magnitude bodi, Magnitude permukaan dan Magnitude momen

Magnitude lokal (ML)
Magnitude lokal (ML) pertama kali diperkenalkan oleh Richter di awal tahun 1930-an dengan menggunakan data kejadian gempabumi di daerah California yang direkam oleh Seismograf Woods-Anderson. Menurutnya dengan mengetahui jarak episenter ke seismograf dan mengukur amplitude maksimum dari sinyal yang tercatat di seismograf maka dapat dilakukan pendekatan untuk mengetahui besarnya gempabumi yang terjadi. (USGS, 2002)


Saat ini penggunaan ML sangat jarang karena pemakaian seismograf Woods-Anderson yang tidak umum. Selain itu penggunaan kejadian gempabumi yang terbatas pada wilayah California dalam menurunkan persamaan empiris membuat jenis magnitude ini paling tepat digunakan untuk daerah tersebut saja. Karena itu dikembangkan jenis magnitude yang lebih tepat untuk penggunaan yang lebih luas dan umum.

Magnitude Body (Mb)
Terbatasnya penggunaan magnitude lokal untuk jarak tertentu membuat dikembangkannya tipe magnitude yang bisa digunakan secara luas. Salah satunya adalah mb atau magnitude bodi (Body-Wave Magnitude). Magnitude ini didefinisikan berdasarkan catatan amplitude dari gelombang P yang menjalar melalui bagian dalam bumi (Lay. T and Wallace.T.C. 1995).

Magnitude Permukaan (Ms)
Selain Magnitude bodi dikembangkan pula Ms, Magnitude permukaan (Surface-wave Magnitude). Magnitude tipe ini didapatkan sebagai hasil pengukuran terhadap gelombang permukaan (surface waves). Untuk jarak delta lebih besar 600 km seismogram periode panjang (long-period seismogram) dari gempabumi dangkal didominasi oleh gelombang permukaan. Gelombang ini biasanya mempunyai periode sekitar 20 detik. Amplitude gelombang permukaan sangat tergantung pada jarak delta dan kedalaman sumber gempa h. Gempabumi dalam tidak menghasilkan gelombang permukaan, karena itu persamaan Ms tidak memerlukan koreksi kedalaman.

Kekuatan gempabumi sangat berkaitan dengan energi yang dilepaskan oleh sumbernya. Pelepasan energi ini berbentuk gelombang yang menjalar ke permukaan dan bagian dalam bumi. Dalam penjalarannya energi ini mengalami pelemahan karena absorbsi dari batuan yang dilaluinya, sehingga energi yang sampai ke stasiun pencatat kurang dapat menggambarkan energi gempabumi di hiposenter.

Magnitude Momen (Mw)
Berdasarkan Teori Elastik Rebound diperkenalkan istilah momen seismik (seismic moment). Momen seismik dapat diestimasi dari dimensi pergeseran bidang sesar atau dari analisis karakteristik gelombang gempabumi yang direkam di stasiun pencatat khususnya dengan seismograf periode bebas (broadband seismograph).

Magnitude Durasi(MD)
Menurut Lee dan Stewart, (1981) sejak tahun 1972, studi mengenai kekuatan gempabumi dikembangkan pada penggunaan durasi sinyal gempabumi untuk menghitung magnitude bagi kejadian gempa lokal, diantaranya oleh Hori (1973), Real dan Teng (1973), Herrman (1975), Bakum dan Lindh (1977), Gricom dan Arabasz (1979), Johnson (1979) dan Suteau dan Whitcomb (1979). Maka diperkenalkan Magnitude Durasi (Duration Magnitude) yang merupakan fungsi dari total durasi sinyal seismik. (Massinon, B, 1986).

Magnitude durasi sangat berguna dalam kasus sinyal yang sangat besar amplitudenya (off-scale) yang mengaburkan jangkauan dinamis sistem pencatat sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan pembacaan apabila dilakukan estimasi menggunakan ML (Massinon. B, 1986).